Pengurangan waktu penyembuhan, antisipasi dan penanganan secara dini untuk mencegah komplikasi, pemeliharaan fungsi tubuh dalam perawatan luka dan tehnik rehabilitasi yang lebih efektif semuanya dapat meningkatkan rata-rata harapan hidup pada sejumlah klien dengan luka bakar serius.
Beberapa karakteristik luka bakar yang terjadi membutuhkan tindakan khusus yang berbeda. Karakteristik ini meliputi luasnya, penyebab(etiologi) dan anatomi luka bakar. Luka bakar yang melibatkan permukaan tubuh yang besar atau yang meluas ke jaringan yang lebih dalam, memerlukan tindakan yang lebih intensif daripada luka bakar yang lebih kecil dan superficial. Luka bakar yang disebabkan oleh cairan yang panas (scald burn) mempunyai perbedaan prognosis dan komplikasi dari pada luka bakar yang sama yang disebabkan oleh api atau paparan radiasi ionisasi.
Luka bakar karena bahan kimia memerlukan pengobatan yang berbeda dibandingkan karena sengatan listrik (elektrik) atau persikan api. Luka bakar yang mengenai genetalia menyebabkan resiko nifeksi yang lebih besar daripada di tempat lain dengan ukuran yang sama. Luka bakar pada kaki atau tangan dapat mempengaruhi kemampuan fungsi kerja klien dan memerlukan tehnik pengobatan yang berbeda dari lokasi pada tubuh yang lain. Pengetahuan umum perawat tentang anatomi fisiologi kulit, patofisiologi luka bakar sangat diperlukan untuk mengenal perbedaan dan derajat luka bakar tertentu dan berguna untuk mengantisipasi harapan hidup serta terjadinya komplikasi multi organ yang menyertai.
Prognosis klien yang mengalami suatu luka bakar berhubungan langsung dengan lokasi dan ukuran luka bakar. Faktor lain seperti umur, status kesehatan sebelumnya dan inhalasi asap dapat mempengaruhi beratnya luka bakar dan pengaruh lain yang menyertai.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini agar mahasiswa keperawatan sebagai calon perawat dapat mengetahui dan memahami tentang penyakit / gangguan system integumen “ Combustio/ luka bakar “ dan mengetahui penanganan dan penatalaksanaan.
BAB II PEMBAHASAN
A. DefenisiLuka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam (Irna Bedah RSUD Dr.Soetomo, 2001).
Luka bakar adalah luka yang disebabkan kontak dengan suhu tinggi seperti api, air panas, bahkan kimia dan radiasi, juga sebab kontak dengan suhu rendah (frosh bite). (Mansjoer 2000 : 365)
Luka bakar (combustio/burn) adalah cedera (injuri) sebagai akibat kontak langsung atau terpapar dengan sumber-sumber panas (thermal), listrik (electrict), zat kimia (chemycal), atau radiasi (radiation) .
B. Anatomi Fisiologi
Anatomi Fisiologi Kulit
Kulit terdiri atas 3 lapisan yang masing-masing memiliki berbagai jenis sel dan memiliki fungsi yang bermacam-macam. Ketiga lapisan tersebut adalah epidermis, dermis, dan subkutis.
B1. Epidermis
Epidermis merupakan struktur lapisan kulit terluar. Sel-sel epidermis terus-menerus mengalami mitosis, dan berganti dengan yang baru sekitar 30 hari. Epidermis mengandung reseptor-reseptor sensorik untuk sentuhan, suhu, getaran dan nyeri.
Komponen utama epidermis adalah protein keratin, yang dihasilkan oleh sel-sel yang disebut keratinosit. Eratin adalah bahan yang kuat dan memiliki daya tahan tinggi, serta tidak larut dalam air. Keratin mencegah hilangnya air tubuh dan melindungi epidermis dari iritan atau mikroorganisme penyebab infeksi. Keratin adalah komponen utama appendiks kulit: rambut, dan kuku (craven,2000)
Melanosit (sel pigmen) terdapat dibagian dasar epidermis. Melanosit menyintesis dan mengeluarkan melanin sebagai respons terhadap rangsangan hormone hipofisis anterior, hormone perangsang melanosit (melanocyte stimulating hormone, MSH). Melanosit merupakan sel-sel khusus epidermis yang terutama terlibat dalam produksi pigmen melanin yang mewarnai kulit dan rambut. Melanin diyakini dapat menyerap cahaya ultraviolet dan dengan demikian akan melindungi seseorang terhadap efek pancaran cahaya ultraviolet dalm sinar matahari yang berbahaya.
Sel-sel imun yang disebut sel Langerhans, terdapat diseluruh epidermis. Sel Langerhans mengenali partikel asing atau mikroorganisme yang masuk kekulit dan membangkitkan suatu serangan imun. Sel Langerhans mungkin bertanggung jawab mengenal dan menyingkirkan sel-sel kulit displastik atau neoplastik.
B2. Dermis
Dermis atau kutan (cutaneus) merupakan lapisan kulit dibawah epidermis yang membentuk bagian terbesar kulit dengan memberikan kekuatan dan struktur pada kulit. Lapisan papilla dermis berada langsung dibawah epidermis dan tersusun terutama dari sel-sel fibroblast yang dapat menghasilkan salah satu bentuk kolagen. Yaitu suatu komponen dari jaringan ikat. Suatu bahan mirip gel, asam hialuronat disekresikan oleh sel-sel jaringan ikat. Bahan ini mengelilingi protein dan menyebabkan ulit menjadi elastic dan memiliki turgor (tegangan). Pada seluruh dermis dijumpai pembuluh darah, saraf sensorik dan simpatis, pembuluh limfe, folikel rambut, serta kelenjar keringat dan palit (sebasea). Sel mast yang mengeluarkan histamine selama cedera atau peradangan dan makrofag yang memfagositosis sel-sel mati dan mikro-organisme juga terdapat didermis.
Pembuluh darah didermis menyuplai makanan dan oksigen pada dermis dan epidermis serta membuang produk-produk sisa.
B3. Subkutis
Lapisan subkkutis kulit terletak dibawah dermis. Lapisan ini terdiri atas lemak dan jaringan ikat dimana berfungsi untukmemberikan bantalan antara lapisan kulitdan struktur internal seperti otot dan tulang. Serta sebagai peredam kejut dan insulator panas. Jaringan ini memungkinkan mobilitas kulit, perubahan kontur tubuh dan penyekatan panas tubuh (Guyton,1996).
Rambut
Rambut dibentuk dari keratin melalui proses
diferensiasi yang sudah ditentukan sebelumnya, sel-sel epidermis tertentu akan
membentuk folikel-folikel rambut.folikel rambut ini disokong oleh matriks kulit
dan akan berdiferensiasi
menjadi rambut. Kemudian suatu saluran epitel akan
terbentuk, melalui saluran inilah rambut akan keluar ke permukaan tubuh. Sistin
dan metionin, yaitu asam amino yang mengandung sulfur dengan ikatan kovalen
yang kuat, memberikan kekuatan pada rambut.
Pada kulit kepala, kecepatan pertumbuhan rambut biasanya 3
mm/hari (Price, 1995). Setiap folikel rambut melewati siklus: pertumbuhan
(rambut anagen), stadium intermedia (rambut katagen), dan involusi (rambut
telogen).
Sekita 90% dari 100.000 folikel rambut pada kulit
kepala yang normal berada dalam fase pertumbuhan pada satu saat. Lima puluh
hingga 100 lembar rambut kulit kepala akan rontok setiap harinya (Craven,2000)
Warna rambut ditentukan oleh jumlah melanin yang beragam
dalam batang rambut.Rambut yang berwarna kelabu atau putih mencerminkan tidak
adanya pigmen tersebut.Pada bagian tubuh tertentu, pertumbuhan rambut dikontrol
oleh hormone-hormon seks.Contoh yang paling nyata adalah rambut pada wajah
(rambut janggut dan kumis) dan rambut pada bagian dada, serta punggung yang
dikendalikan oleh hormone laki-laki yang dikenal sebagai hormone androgen.
Kuku
Kuku merupakan lempeng keratin mati yang dibentuk oleh
sel-sel epidermis matriks kuku.Matriks kuku terletak dibawah bagian proksimal
lempeng kuku dalam dermis.Bagian ini dapat terlihat sebagai suatu daerah yang
putih yang disebut lunula, yang tertutup oleh lipatan kuku bagian proksimal dan
kutikula.Oleh karena rambut maupun kuku merupakan struktur keratin yang mati,
maka rambut dan kuku tidak mempunyai ujung saraf dan tidak mempunyai aliran darah.
Kuku akan melindungi jari-jari tangan dan kaki dengan menjaga fungsi
sensoriknya yang sangat berkembang, serta meningkatkan fungsi-fungsi halus
tertentu seperti fungsi mengangkat benda-benda kecil. Pembaruan total kuku jari
tangan memerlukan waktu sekitar 170 hari, sedangkan pembaruan kuku jari kaki
membutuhkan waktu 12 hingga 18 bulan (Smeltzer, 2002)
KELENJAR PADA KULITKelenjar sebaseaKelenjar sebasea menyertai folikel rambut. Kelenjar ini mengeluarkan bahan berminya yag disebut sebum kesaluran sekitarnya. Untuk setiap lembar rambut terdapat sebuah kelenjar sebasea yang sekretnya melumasi rambut dan membuat rambut menjadi lunak, serta lentur.Kelenjar keringatDitemukan pada kulit sebagian besar permukaan tubuh.Kelenjar ini terutama terdapat padda telapak tangan dan kaki. Hanya glans penis, bagian tepi bibir, telinga luar, dan dasar kuku yang tidak mengandung kelenjar keringat.Kelenjar keringat dapat diklasifikasikan lebih lanjut menjadi dua kategori, yaitu kelenjar merokrin dan apokrin.Kelenjar apokrinKelenjar apokrin memproduksi keringat yang keruh seperti susu dan diuraikan oleh bakteri untuk menghasilkan bau yang khas. Kelenjar apokrin yang khusus dinamakan kelenjar seruminosa dijumpai pada telinga luar, tempat kelenjar tersebut memproduksi serumen (Lewis, 2000).Sekresi apokrin tidak mempunyai fungsi apapun yang berguna bagi manusia, tetapi kelenjar ini menimbulkan bau pada ketiak apabila sekresinya mengalami dekomposisi oleh bakteri (Price, 1995)Fungsi KulitSecara umum beberapa fungsi kulit adalah sebagai berikut:
- Proteksoi
- Sensasi
- Termoregulasi
- Metabolism, sintesis vitamin D
- Keseimbangan air
- Penyerapan zat atau obat
- Penyimpanan nutrisi
- Berperan dalam komunikasi non verbal sebagai contoh dalam kaitannya dengan emosi, misalnya wajah kemerahan dalam menahan emosi atau malu.
ProteksiKulit yang menutupi sebagian besar tubuh memiliki ketebalan sekitar1 atau 2 mm yang memberikan perlindungan yang sangat efektif terhadap trauma fisik, kimia, dan biologis dari invasi bakteri.Kulit telapak tangan dan kaki yang menebal memberikan perlindungan terhadap pengaruh trauma yang terus – menerus terjadi didaerah tersebut.Bagian stratum korneum epidermis merupakan barier yang paling efektif terhadap berbagai faktor lingkungan seperti zat-zat kimia, sinar matahari, virus, fungus, gigitan serangga, luka karena gesekan angina tau trauma.Lapisan dermis kulit memberikan kekuatan mekanis dan keuletan melalui jaringan ikat fibrosa dan serabut kolagennya. Dermis tersusun dari jalinan vaskuler,dermis merupakan barier transportasi yang efisien terhadap substansi yang dapat menebus stratum korneum dan epidermis. Factor-faktor lain yang mempengaruhi fungsi protektif kulit mencakup usia kulit, daerah kulit yang terlibat dalam dan status vaskuler.SensasiUjung-ujung reseptor serabut saraf pada kulit memungkinkan tubuh untuk memantau secara terus-menerus keadaan linkungan disekitarnya.Fungsi utama reseptor pada kulit adalah untuk mengindera suhu, rasa nyeri, sentuhan yang ringan dan tekanan. Berbagai ujung saraf bertanggung jawab untuk bereaksi terhadap setiap stimuli yang berbeda (Smeltzer, 2002)TermoregulasiPeran kulit dalam pengaturan panas meliputi sebagai penyekat tubuh, vasokonstriksi (yang memengaruhi aliran darah dan hilangnya panas kekulit) dan sensasi suhu (Potter, 2006).Perpindahan suhu dilakukan pada system vaskuler
melalui dinding pembuluh, kepermukaan kulit dan hilang kelingkungan sekitar melalui mekanisme penghilangan panas.Pengeluaran dan produksi panas terjsi secara stimultan.Struktur kulit dan paparan terhadap lingungan secara konstan, pengeluaran panas secara normal melalui radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi. (Potter, 2006)RadiasiRadiasi adalah perpnidahan panas dari permukaan suatu objek lain tanpa keduanya bersentuhan. Panas berpindah melalaui gelombang elektromagnetik (Potter, 2006)2) KonduksiKonduksi merupakan pengeluaran panas dari satu objek ke objek lain melalui kontak langsung. Proses pengeluaran atau perpindahan suhu tubuh terjadi pada saat kulit hangat menyentuh objek yang lebih dingin.3) KonveksiKonveksi merupakan suatu perpindahan panas akibat adanya gerakaan udara yang secara langsung kontak dengan kulit.4) EvaporasiEvaporasi adalah perpindahan energy panas ketika cairan berubah menjadi gas. Selama evaporasi kira-kira 0,6 kalori panas hilang untuk setiap gram air yang menguap. Tubuh secara kontinyu kehilangan panas melalui evaporasi.Kira-kira 600-900ml/hari menguap dari kulit dan paru-paru, yang mengakibatkan kehilangan air dan panas. Kehilangan normal ini dipertimbangkan kehilangan air tidak kasat mata (insensible water loss) dan tidak memainkan peran utama dalam pengaturan suhu (Guyton,1999)METABOLISMERadiasi sinar ultraviolet memberikan paparan, maka sel-sel epidermal didalam stratum spinosum dan stratum germinativum akan mengonversi pelepasan steroid kolesterol menjadi vitamin D3 atau kolekalsiferol. Organ hati kemudian
KESEIMBANGAN AIRStratum korneum memiliki kemampuan untuk menyerap air dan dengan demikian akan mencegah kehilangan air serta elektrolit yang berlebihan dari bagian internal tubuh dan mempertahankan kelembapan dalam jaringan subkutan (Smeltzer, 2002).Ketika terendam dalam air, kulit dapat menimbun air sampai tiga hingga empat kali berat normalnya. (Guyton,1999). Contoh keadaan ini yang lazim dijumpai adalah pembengkakan kulit sesudah mandi berendam untuk waktu yang lama.PENYERAPAN ZAT ATAU OBATBerbagai senyawa lipid (zat lemak) dapat diserap lewat stratum korneum, termasuk vitamin (A dan D) yang larut lemak dan hormon-hormon steroid. Obat-obat dan substansi lain dapat memasuki kulit lewat epidermis melalui jalur transepidermal atau lewat lubang-lubang folikel (Kee, 1999)FUNGSI RESPON IMUNHasil-hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa beberapa sel dermal (sel Langerhans, Interleukin-1 yang memproduksi keratinosit, dan subkelompok limfosit-T) merupakan komponen penting dalam system imun.C. ETIOLOGIBerbagai faktor dapat menjadi penyebab luka bakar. Beratnya luka bakar juga dipengaruhi oleh cara dan lamanya kontak dengan sumber panas (misal suhu benda yang membakar, jenis pakaian yang terbakar, sumber panas : api, air panas dan minyak panas), listrik, zat kimia, radiasi, kondisi ruangan saat terjadi kebakaran dan ruangan yang tertutup.
Luka bakar dikategorikan menurut mekanisme injurinya meliputi :a. Luka Bakar TermalLuka bakar thermal (panas) disebabkan oleh karena terpapar atau kontak dengan api, cairan panas atau objek-objek panas lainnya.b. Luka Bakar KimiaLuka bakar chemical (kimia) disebabkan oleh kontaknya jaringan kulit dengan asam atau basa kuat. Konsentrasi zat kimia, lamanya kontak dan banyaknya jaringan yang terpapar menentukan luasnya injuri karena zat kimia ini. Luka bakar kimia dapat terjadi misalnya karena kontak dengan zat-zat pembersih yang sering dipergunakan untuk keperluan rumah tangga dan berbagai zat kimia yang digunakan dalam bidang industri, pertanian dan militer. Lebih dari 25.000 produk zat kimia diketahui dapat menyebabkan luka bakar kimia.c. Luka Bakar ElektrikLuka bakar electric (listrik) disebabkan oleh panas yang digerakan dari energi listrik yang dihantarkan melalui tubuh. Berat ringannya luka dipengaruhi oleh lamanya kontak, tingginya voltage dan cara gelombang elektrik itu sampai mengenai tubuh.d. Luka Bakar RadiasiLuka bakar radiasi disebabkan oleh terpapar dengan sumber radioaktif. Tipe injuri ini seringkali berhubungan dengan penggunaan radiasi ion pada industri atau dari sumber radiasi untuk keperluan terapeutik pada dunia kedokteran. Terbakar oleh sinar matahari akibat terpapar yang terlalu lama juga merupakan salah satu tipe luka bakar radiasi.Faktor ResikoData yang berhasil dikumpulkan oleh Natinal Burn Information Exchange menyatakan 75 % semua kasus injuri luka bakar, terjadi didalam lingkungan rumah. Klien dengan usia lebih dari 70 tahun beresiko tinggi untuk terjadinya luka bakar.Gambarnya:
D. Fase Luka Bakar1. Fase akut.Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Dalam fase awal penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), brething (mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi).Gnagguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma.Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderiat pada fase akut.Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik.2. Fase sub akut.Berlangsung setelah fase syok teratasi.Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas.Luka yang terjadi menyebabkan:a. Proses inflamasi dan infeksi.b. Problempenuutpan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ – organ fungsional.c. Keadaan hipermetabolisme.3. Fase lanjut.Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik, kleoid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.E. Klasifikasi Luka Bakar
- Dalamnya luka bakar.
Penyebab Penampilan Warna Perasaan Ketebalan partial superfisial(tingkat I) Jilatan api, sinar ultra violet (terbakar oleh matahari). Kering tidak ada gelembung.Oedem minimal atau tidak ada.Pucat bila ditekan dengan ujung jari, berisi kembali bila tekanan dilepas. Bertambah merah. Nyeri Lebih dalam dari ketebalan partial(tingkat II)
- Superfisial
- Dalam
Kontak dengan bahan air atau bahan padat.Jilatan api kepada pakaian.Jilatan langsung kimiawi.Sinar ultra violet. Blister besar dan lembab yang ukurannya bertambah besar.Pucat bial ditekan dengan ujung jari, bila tekanan dilepas berisi kembali. Berbintik-bintik yang kurang jelas, putih, coklat, pink, daerah merah coklat. Sangat nyeri Ketebalan sepenuhnya(tingkat III) Kontak dengan bahan cair atau padat.Nyala api.Kimia.Kontak dengan arus listrik. Kering disertai kulit mengelupas.Pembuluh darah seperti arang terlihat dibawah kulit yang mengelupas.Gelembung jarang, dindingnya sangat tipis, tidak membesar.Tidak pucat bila ditekan. Putih, kering, hitam, coklat tua.Hitam.Merah. Tidak sakit, sedikit sakit.Rambut mudah lepas bila dicabut.B. Luas luka bakarWallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama rule of nine atua rule of wallace yaitu:a. Kepala dan leher : 9%b. Lengan masing-masing 9% : 18%c. Badan depan 18%, badan belakang 18% : 36%d. Tungkai maisng-masing 18% : 36%e. Genetalia/perineum : 1%Total : 100%C. Berat ringannya luka bakarUntuk mengkaji beratnya luka bakar harus dipertimbangkan beberapa faktor antara lain :1. Persentasi area (Luasnya) luka bakar pada permukaan tubuh. Kedalaman luka bakar.2. Anatomi lokasi luka bakar.
- Umur klien.
- Riwayat pengobatan yang lalu.
- Trauma yang menyertai atau bersamaan.
Indikasi Rawat Inap Luka Bakara) Luka bakar grade II:b) ewasa> 20%c) Anak/orang tua > 15%d) Luka bakar grade III.e) Luka bakar dengan komplikasi: jantung, otak dll.
F. PATHWAY
G. KOMPLIKASIa. Syok hipovolemikb. Kekurangan cairan dan elektrolitc. Hypermetabolismed. Infeksie. Gagal ginjal akutf. Masalah pernapasan akut; injury inhalasi, aspirasi gastric, pneumonia bakteri, edema.g. Paru dan embolih. Sepsis pada lukai. Ilius paralitikH. PEMERIKSAAN PENUNJANGKadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi asap.
- LED: mengkaji hemokonsentrasi.
- Elektrolit serum mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan biokimia. Ini terutama penting untuk memeriksa kalium terdapat peningkatan dalam 24 jam pertama karena peningkatan kalium dapat menyebabkan henti jantung.
- Gas-gas darah arteri (GDA) dan sinar X dada mengkaji fungsi pulmonal, khususnya pada cedera inhalasi asap.
- BUN dan kreatinin mengkaji fungsi ginjal.
- Urinalisis menunjukkan mioglobin dan hemokromogen menandakan kerusakan otot pada luka bakar ketebalan penuh luas.
- Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap.
- Koagulasi memeriksa faktor-faktor pembekuan yang dapat menurun pada luka bakar masif.
I. PENATALAKSANAAN
- Pernafasan:
a. Udara panas à mukosa rusak à oedem à obstruksi.b. Efek toksik dari asap: HCN, NO2, HCL, Bensin à iritasi à Bronkhokontriksi à obstruksi à gagal nafas.
- Sirkulasi:
gangguan permeabilitas kapiler: cairan dari intra vaskuler pindah ke ekstra vaskuler à hipovolemi relatif à syok à ATN à gagal ginjal.B. Infus, kateter, CVP, oksigen, Laboratorium, kultur luka.C. Resusitasi cairan à Baxter.Dewasa : Baxter.· RL 4 cc x BB x % LB/24 jam.Anak: jumlah resusitasi + kebutuhan faal:· RL : Dextran = 17 : 3· 2 cc x BB x % LB.Kebutuhan faal:· < 1 tahun : BB x 100 cc· 1 – 3 tahun : BB x 75 cc· 3 – 5 tahun : BB x 50 cc· ½ à diberikan 8 jam pertama· ½ à diberikan 16 jam berikutnya.Hari kedua:· Dewasa : Dextran 500 – 2000 + D5% / albumin.( 3-x) x 80 x BB gr/hr100· (Albumin 25% = gram x 4 cc) à 1 cc/mnt.· Anak : Diberi sesuai kebutuhan faal.
- Monitor urine dan CVP.
- Topikal dan tutup luka
- Cuci luka dengan savlon : NaCl 0,9% ( 1 : 30 ) + buang jaringan nekrotik.
- Tulle.
- Silver sulfa diazin tebal.
- Tutup kassa tebal.
- Evaluasi 5 – 7 hari, kecuali balutan kotor.
- Obat – obatan:
a) Antibiotika : tidak diberikan bila pasien datang < 6 jam sejak kejadian.b) Bila perlu berikan antibiotika sesuai dengan pola kuman dan sesuai hasil kultur.c) Analgetik : kuat (morfin, petidine)d) Antasida : kalau perlua. Keamanan:Tanda:Kulit umum: destruksi jaringan dalam mungkin tidak terbukti selama 3-5 hari sehubungan dengan proses trobus mikrovaskuler pada beberapa luka.Area kulit tak terbakar mungkin dingin/lembab, pucat, dengan pengisian kapiler lambat pada adanya penurunan curah jantung sehubungan dengan kehilangan cairan/status syok.Cedera api: terdapat area cedera campuran dalam sehubunagn dengan variase intensitas panas yang dihasilkan bekuan terbakar. Bulu hidung gosong; mukosa hidung dan mulut kering; merah; lepuh pada faring posterior;oedema lingkar mulut dan atau lingkar nasal.Cedera kimia: tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab.Kulit mungkin coklat kekuningan dengan tekstur seprti kulit samak halus; lepuh; ulkus; nekrosis; atau jarinagn parut tebal. Cedera secara mum ebih dalam dari tampaknya secara perkutan dan kerusakan jaringan dapat berlanjut sampai 72 jam setelah cedera.Cedera listrik: cedera kutaneus eksternal biasanya lebih sedikit di bawah nekrosis. Penampilan luka bervariasi dapat meliputi luka aliran masuk/keluar (eksplosif), luka bakar dari gerakan aliran pada proksimal tubuh tertutup dan luka bakar termal sehubungan dengan pakaian terbakar.Adanya fraktur/dislokasi (jatuh, kecelakaan sepeda motor, kontraksi otot tetanik sehubungan dengan syok listrik).
- Pemeriksaan diagnostik:
- LED: mengkaji hemokonsentrasi.
- Elektrolit serum mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan biokimia. Ini terutama penting untuk memeriksa kalium terdapat peningkatan dalam 24 jam pertama karena peningkatan kalium dapat menyebabkan henti jantung.
- Gas-gas darah arteri (GDA) dan sinar X dada mengkaji fungsi pulmonal, khususnya pada cedera inhalasi asap.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
- Pengkajian
a. Aktifitas/istirahat:Tanda: Penurunan kekuatan, tahanan; keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit; gangguan massa otot, perubahan tonus.b. Sirkulasi:Tanda (dengan cedera luka bakar lebih dari 20% APTT): hipotensi (syok); penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera; vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi, kulit putih dan dingin (syok listrik); takikardia (syok/ansietas/nyeri); disritmia (syok listrik); pembentukan oedema jaringan (semua luka bakar).c. Integritas ego:Gejala: masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan.Tanda: ansietas, menangis, ketergantungan, menyangkal, menarik diri, marah.a. Eliminasi:Tanda: haluaran urine menurun/tak ada selama fase darurat; warna mungkin hitam kemerahan bila terjadi mioglobin, mengindikasikan kerusakan otot dalam; diuresis (setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi); penurunan bising usus/tak ada; khususnya pada luka bakar kutaneus lebih besar dari 20% sebagai stres penurunan motilitas/peristaltik gastrik.a. Makanan/cairan:Tanda: oedema jaringan umum; anoreksia; mual/muntah.a. Neurosensori:Gejala: area batas; kesemutan.Tanda: perubahan orientasi; afek, perilaku; penurunan refleks tendon dalam (RTD) pada cedera ekstremitas; aktifitas kejang (syok listrik); laserasi korneal; kerusakan retinal; penurunan ketajaman penglihatan (syok listrik); ruptur membran timpanik (syok listrik); paralisis (cedera listrik pada aliran saraf).a. Nyeri/kenyamanan:Gejala: Berbagai nyeri; contoh luka bakar derajat pertama secara eksteren sensitif untuk disentuh; ditekan; gerakan udara dan perubahan suhu; luka bakar ketebalan sedang derajat kedua sangat nyeri; smentara respon pada luka bakar ketebalan derajat kedua tergantung pada keutuhan ujung saraf; luka bakar derajat tiga tidak nyeri.a. Pernafasan:Gejala: terkurung dalam ruang tertutup; terpajan lama (kemungkinan cedera inhalasi).Tanda: serak; batuk mengii; partikel karbon dalam sputum; ketidakmampuan menelan sekresi oral dan sianosis; indikasi cedera inhalasi.Pengembangan torak mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada; jalan nafas atau stridor/mengii (obstruksi sehubungan dengan laringospasme, oedema laringeal); bunyi nafas: gemericik (oedema paru); stridor (oedema laringeal); sekret jalan nafas dalam (ronkhi).
- BUN dan kreatinin mengkaji fungsi ginjal.
- Urinalisis menunjukkan mioglobin dan hemokromogen menandakan kerusakan otot pada luka bakar ketebalan penuh luas.
- Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap.
- Koagulasi memeriksa faktor-faktor pembekuan yang dapat menurun pada luka bakar masif.
- Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi asap.
- Diagnosa Keperawatan
Marilynn E. Doenges dalam Nursing care plans, Guidelines for planning and documenting patient care mengemukakan beberapa Diagnosa keperawatan sebagai berikut :
- bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi trakeabronkial;edema mukosa dan hilangnya kerja silia. Luka bakar daerah leher; kompresi jalan nafas thorak dan dada atau keterdatasan pengembangan dada.
- kekurangan volume cairan berhubungan dengan Kehilangan cairan melalui rute abnormal. Peningkatan kebutuhan : status hypermetabolik, ketidak cukupan pemasukan. Kehilangan perdarahan.
- kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan cedera inhalasi asap atau sindrom kompartemen torakal sekunder terhadap luka bakar sirkumfisial dari dada atau leher.
- Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer tidak adekuat; kerusakan perlinduingan kulit; jaringan traumatik. Pertahanan sekunder tidak adekuat; penurunan Hb, penekanan respons inflamasi.
- Nyeri berhubungan dengan Kerusakan kulit/jaringan; pembentukan edema. Manifulasi jaringan cidera contoh debridemen luka.
Daftar Pustaka
| 1. | Brunner and suddart. (1988). Textbook of Medical Surgical Nursing. Sixth Edition. J.B. Lippincott Campany. Philadelpia. Hal. 1293 – 1328. |
| 2 | Carolyn, M.H. et. al. (1990). Critical Care Nursing. Fifth Edition. J.B. Lippincott Campany. Philadelpia. Hal. 752 – 779. |
| 3 | Carpenito,J,L. (1999). Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2 (terjemahan). PT EGC. Jakarta. |
| 4 | Djohansjah, M. (1991). Pengelolaan Luka Bakar. Airlangga University Press. Surabaya. |
| 5 | Doenges M.E. (1989). Nursing Care Plan. Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ). F.A. Davis Company. Philadelpia |


